Ketapang Petakan Wilayah Sulbar Yang Rentang Pangan

MAMUJU – Dinas Ketahanan Pangan Sulawesi Barat mengelar rapat lintas sektor, mulai dari dinas kesehata, Statistik, PUPR, Dinsos, Disdukcapil, dan unsur perguruan tinggi, hal tersebut dilakukan sebagai bentuk koordinas untuk membuat peta wilayah rawan pangan. Senin (29/08/2022)

Rapat yang digelat disalah satu kafe di Mamuju, diharapkan menghasilkan wilayah mana saja di sulawesi barat yang karawanan panganya mulaui dari level terendah sampai tertinggi.

Kepala Ketahanan pangan Sulbar Abdul Waris Bestari membuka acara tersebut mengatakan, pemetaan dilakukan agar sentuhan program dapat berjalan dengan baik dan tepat sasara, sehingga Pemerintah daerah tidak membuang siasia anggaran yang ada.

“Kalau soal peta rawan pangan, semuanya harus terlibat, lantaran berkaitan semua muali dari kesehatanya sampai pendidikan. Jika ada wilayah rawan pangan kita petakan, apa penyebabkanya, jika akibat jalan, maka dinas PUPR akan terlebih dahulu masuk, kemudian secara bertahap masuk. Kalau soal rentang pangan bukan kekurangan makanan akan tetapi apa penyebab masyarakat sulit mengakses pangan yang berkuwalitas,”kata Abdul Waris Bestari.

Abdul Waris menambahkan, berdasarkan intruksi Bandan ketahanan pangan nasional, ada 9 indikator yang akan disentuh, kalau Provinsi skopnya tingkat Kecamatan, kalau kabupaten ada 6 indikator dengan skopnya tingkat desa.

“Dinas ketahanan pangan tidak dapat berdiri, harus berklaborasi dengan sejumlam pihak karena berkaitan semua. Jika kerentangan pangan dapat diatasi, pengarunya juga dapat dirasakan, salah satunya angka stangting bisa ditekan,” Tutur Abdul Waris bestari.

Berdasarkan data tahun 2019 peta rentang pangan di Sulbar paling banyak yakni Kabupaten Mamasa 17 kecamatan, polman 16 kecamatan, mamuju utara 12 kecamatan, mamuju 11 kecamatan, majene 8 kecamatan dan Mamuju tenga 5 kecamatan.

(**)

About Author

Spread the love