Kita Semua Adalah Guru

St. Zahrah.My

VMSNEW.NETMAMUJUOPINISt. Zahrah My —  Keluarga, dinas pendidikan, Masyarakat dan Pemerintah, semuanya adalah guru. Ya, kita adalah
guru yang memiliki Tugas yang berbeda-beda.

Berbicara tentang Tanggungjawab keluarga sebagai guru tentunya yang kita maksud adalah
orang tua. Bukan hanya ibu, tapi juga ayah adalah sekolah pertama bagi anak-anak. Tidak harus
menjadi orang tua yang berpendidikan tinggi ataupun orang tua yang mempunyai banyak
pengetahuan, cukup menjadi orang tua yang bisa menciptakan suasana rumah yang nyaman,
memberi dukungan, dorongan dan motivasi untuk anak agar terus semangat belajar, dan
yang terpenting terus mendampingi dan memantau proses belajar anak, khusunya proses
pembelajaran karakter.

Selanjutnya adalah dinas Pendidikan khususnya tenaga pendidik disekolah atau yang kita sebut
sebagai Guru. Sebenarnya tugas dan peran guru telah diatur dalam undang-undang Nomor
14 Tahun 2005 pasal 1 ayat 1 yang mengatakan bahwa Tugas utama guru adalah Mendidik,
mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada
pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Tugas-tugas tersebut diharapkan bisa melahirkan generasi yang mandiri, cerdas, berdaya saing,menguasai bidang ilmu pengetahuan, jujur, bertanggungjawab, syukur, peduli dan cinta tanah
air. Jadi perlu digaris bawahi, bahwa guru tidak hanya mengajar agar anak pintar matematika,
Ipa, Ilmu tekhnologi atau bidang ilmu pengetahuan lainnya, tapi mereka juga mempunya tugas
yang mulia yaitu mendidik dan mengarahkan agar generasi bangsa memiliki karakter moral yang
baik. Untuk apa pintar, dan kelak menjadi pemimpin tapi malah tidak jujur dan berbuah korupsi?

Untuk apa mampu menguasai tekhnologi tapi tidak peduli pada tetangga yang kelaparan?

Untuk apa generasi menjadi dokter jika kesehatan dijadikan sebagai ladang bisnis bukan atas
dasar kemanusiaan?

Ya tugas guru memang sangatlah berat

Melihat kondisi guru sekarang ini, khususnya didaerah pelosok begitu banyak yang mesti
dibenahi. Mulai dari metode mengajar yang masih menggunakan metode mimbar dan metode
DCP (Duduk, Catat, Pulang), penilaian anak-anak hanya fokus pada hasil hafalan dan nilai tugas
serta pendisiplinan yang masih menggunakan Rotan untuk mendiamkan anak-anak. Dan yang
paling menggeramkan adalah ketika guru-guru lebih banyak nongkrong “julid” diluar kelas pada
saat jam pelajaran.

Sebenarnya menjadi guru itu menyenangkan karena kita mengajarkan anak-anak apa yang ada
disekitarnya. Itulah mengapa guru tak harus selalu belajar dalam kelas, bahkan bisa membawa
anak-anak keluar kelas belajar sambil bermain. Anak-anak senang, guru juga bisa ikut senang.

Murid-murid lebih aktif dan guru menjadi Fasilitator. Seperti dalam permainan bola, guru menjadi
wasit dan anak-anak yang menjadi pemainnya.
Penilaianpun demikian. Sebagai guru pasti sudah tahu, bahwa tidak semua anak mudah dan
cepat menangkap suatu pelajaran bukan berarti mereka bodoh karena sejatinya tidak ada
anak-anak yang bodoh. Hanya saja kadang minat peserta didik tidak berada pada bidang
pelajaran yang diajarkan. Bahkan sebagai guru kitapun butuh berefleksi, bisa jadi cara mengajar
kita yang perlu diubah dan diperbaiki.

Itulah mengapa, seharusnya penilaian tidak hanya difokuskan pada hafalan, hasil tugas dan ujian,
tetapi juga kepada proses belajar peserta didik. Ada anak yang rendah matematika atau bahasa
inggrisnya, tetapi anak tersebut suka menolong dan rajin beribadah, sopan dan jujur. Ada anak
yang tidak mampu mengahafal hingga fasih seperti temannya yang lain, tetapi dia telah berusaha
keras untuk hasil terbaiknya. Ada banyak sisi lain yang bisa kita nilai dari anak-anak.

Permasalahan yang lain adalah pendisiplinan. Diperkotaan mungkin sudah tidak diberlakukan
lagi mendisiplinkan anak dengan rotan. Tetapi didaerah masih menjadi cara umum yang digunakan
untuk mendisiplinkan anak.
Sebenarnya banyak cara menyenangkan yang bisa digunakan untuk mendisiplinkan anak,
saat mereka mulai ribut, kita tidak perlu teriak-teriak, cukup dengan permainan tepuk mereka
akan kembali fokus pada gurunya. Saat mereka berbuat kesalahan, tak harus dengan pukulan,
memberi penjelasan dan dampak yang ditimbulkan lebih akan meresap kedalam hatinya. Saat
sikap mereka didasari pengetahuan dan kesadaran diri sendiri lebih akan melekat dan bisa
menjadi kebiasaan. Tetapi jika didasari oleh rasa takut, mereka bisa saja melakukan hal yang
sama saat bertemu dengan orang yang dianggap lebih lemah darinya.

Yang membuatku tidak habis fikir adalah, kebiasaan guru yang nongkrong diluar kelas pada
saat jam pelaharan. Sangat penting guru memahami tanggungjawabnya supaya anak-anak tidak
diabaikan seperti itu. Bukan hanya pasangan yang butuh perhatian penuh, tetapi murid-murid kita
juga.
Namun kita tidak bisa menyalahkan guru sepenuhnya, karena kadang guru ingin melakukan
tugasnya dengan baik saat berhadapan dengan peserta didik, tetapi ada aturan administrasi
sekolah yang begitu rumit sehingga menuntut mereka kadang lebih peduli pada administrasi
daripada proses belajar.

Disinilah peran pemerintah yang seharusnya melahirkan kebijakan
pendidikan yang tidak membuat rumit, yang lebih memerdekakan guru saat menjalankan
tugasnya sebagai pendidik.
Membaca pidato bapak Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim yang
sedang Viral, cukup membuat saya terharu. Ajakan kepada guru-guru dalam pidato tersebut
merupakan peran pemerintah sebagai guru. Membebaskan guru untuk mendesain kelasnya
sebagaimana yang mereka butuhkan.Namun tentunya ajakan tersebut hanya akan menjadi
omong kosong jika tidak dikuatkan dalam bentuk peraturan resmi yang bisa menjadi pegangan
dan pedoman bagi para tenaga pendidik.

Terakhir peran masyarakat sebagai guru. Anak-anak belajar dan mendapatkan pengalaman
dari lingkungannya. Tak hanya keluarga dan sekolah, lingkungan masyarakatnya juga akan
mempengaruhi proses belajarnya. Mulai dari pemerintah Desa hingga kemasyarakatnya
terlibat dalam memajukan pendidikan.

Pemuda senantiasa melakukan event-event yang berbau
pendidikan, pemerintah desa mendukung secara moril dan materi, masyarakat yang ramah anak,
masyarakat aktif terlibat dalam kegiatan – kegiatan pendidikan, dan yang paling utama masyarakat ikut
mendampingi anak-anak dalam pembinaan karakter.

Ketika para guru tersebut melakukan kolaborasi dan kerjasama yang baik, saya sangat optimis
tujuan pendidikan Nasional bisa terwujud.

Penulis :St. Zahrah My
Profesi : Guru Relawan di SDN 1 Buya kabupaten Kepulauan sula, provinsi Maluku Utara

About Author

Spread the love