MAMUJU – Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) Mamuju, mencatat telah terjadi 29 kali musibah yang ditangani, baik kecelakaan pelayaran, kondisi membahayakan manusia dan bencana alam yang terjadi di Sulbar.
Dari 29 musibah tersebut terdapat 455 orang menjadi korban. Korban meninggal dunia sebanyak 123 orang dan korban selamat sebanyak 323 orang. Sedangkan sembilan orang masih hilang hingga saat ini.
Hal tersebut diungkapkan Kepala Basarnas Mamuju, Muhammad Arif Anwar saat melakukan pertemuan dengan sejumlah awak madia di salah satu warko di Mamuju, Kamis (23/12/2021).
“Sulbar sudah menjadi perhatian pemerintah, termasuk Basarnas sendiri karena berada di wilayah Ring of Fire (Cincin api, red) karena sering mengalami gempa bumi,” kata Arif, dalam Media Gathering bersama media di salah satu warkop di Mamuju, Kamis 23 Desember.
Untuk itu, lanjut dia, Basarnas Mamuju menyusun beberapa strategi dalam memperkuat simpul-simpul SAR di Sulbar. Termasuk membentuk unit siaga SAR di Polman dan Pasangkayu.
“Kita terus memperkuat dan menjalin komunikasi serta koordinasi dengan pemerintah daerah. Sampai saat ini kami sudah bangun unit siaga di Polman dan Pasangkayu,” ujarnya.
Alasan membuka unit siaga SAR, kata dia, tak lain untuk mempercepat penanganan kedaruratan. Unit siaga SAR di Polman bisa mencover wilayah Majene dan Mamasa dan unit siaga SAR di Pasangkayu bisa mencover wilayah Mamuju Tengah (Mateng).
“Saya berpikir kalau harus ke Polman atau Pasangkayu, kita butuh waktu lima jam. Makanya saya buka unit siaga, meskipun saat ini personel kami sangat kurang,” ungkapnya.
(**)


Polda Sulbar Bangun Kantor PJR Pertama di Indonesia, Siap Jadi Model Nasional & Dorong Ekonomi Warga
PAD Terbatas, Gubernur Sulbar Tetap Kejar Pengentasan Kemiskinan dan Ketahanan Pangan
Evaluasi Triwulan I, Gubernur Sulbar Ingatkan Risiko APBD dan Pentingnya Data Akurat