PPG MACCORAWALIE 05 Resmi Diluncurkan, Dorong Pemenuhan Gizi dan Penguatan Ekonomi Lokal di Kabupaten Pinrang
Pinrang, Sabtu (31/01/2026) — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) MACCORAWALIE 05 yang berlokasi di Kelurahan Maccorawalie, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, resmi diluncurkan. Peresmian SPPG tersebut ditandai dengan pengguntingan pita oleh Ir. Hj. Andi Nirawati, S.T., M.Agb., IPM., ASEAN Eng, Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan Komisi E Fraksi Partai Gerindra, yang sekaligus memberikan sambutan pada kegiatan launching tersebut.
Dalam sambutannya, Ir. Hj. Andi Nirawati menyampaikan apresiasi atas hadirnya SPPG MACCORAWALIE 05 sebagai bentuk konkret dukungan terhadap Program Makanan Bergizi (MBG). Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi masyarakat, khususnya bagi kelompok rentan dan peserta didik, merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sulawesi Selatan.
“SPPG ini merupakan contoh nyata bagaimana program nasional diterjemahkan secara konkret di daerah. Tidak hanya menjawab kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga membuka lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi lokal. Inisiatif seperti ini harus terus kita dukung dan direplikasi di wilayah lain,” ujar Andi Nirawati.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan mutu makanan, ketepatan sasaran penerima manfaat, serta kesinambungan pasokan bahan baku agar program dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan.


SPPG MACCORAWALIE 05 dirancang untuk memproduksi hingga kurang lebih 3.200 porsi makanan bergizi per hari, dengan prioritas penerima manfaat kelompok rentan (B3) serta peserta didik. Dalam operasionalnya, SPPG ini melibatkan sekitar 47 tenaga kerja lokal yang bekerja dalam beberapa shift, dengan penerapan standar kebersihan dan keamanan pangan yang ketat.
Mitra SPPG MACCORAWALIE 05, Muh. Arifain, S.H., M.H., menyampaikan bahwa kehadiran SPPG ini diharapkan dapat menjadi simpul pelayanan sosial sekaligus penggerak ekonomi masyarakat setempat.
“Kami ingin SPPG ini tidak hanya berdampak pada peningkatan status gizi masyarakat, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi lokal. Bahan baku makanan disuplai dari Koperasi Desa Merah Putih, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat sekitar,” ungkap Muh. Arifain.
Dengan sistem rantai pasok berbasis lokal dan proses produksi yang terkontrol, SPPG MACCORAWALIE 05 juga diharapkan mampu berkontribusi dalam menjaga stabilitas harga pangan di wilayah sekitar, sekaligus menjadi model layanan pemenuhan gizi yang berkelanjutan.
Selain itu, Muh. Arifain juga menyampaikan harapannya agar keberadaan SPPG MACCORAWALIE 05 dapat masuk dalam radar dan perhatian Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Kabupaten maupun Provinsi.
“SPPG pada dasarnya bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga dapat menjadi instrumen pengendalian inflasi pangan di tingkat lokal. Dengan rantai pasok yang pendek, berbasis koperasi serta pelaku usaha lokal, SPPG berpotensi menjaga stabilitas harga bahan pokok. Karena itu, kami berharap SPPG dapat menjadi bagian dari ekosistem kebijakan TPID,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan TPID akan memperkuat sinkronisasi antara kebijakan pengendalian inflasi, ketahanan pangan, dan program sosial, sehingga dampak SPPG tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat, tetapi juga oleh perekonomian daerah secara keseluruhan.
“Jika SPPG diposisikan sebagai mitra strategis TPID, maka pengendalian inflasi, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat dapat berjalan beriringan,” tambahnya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Drs. H. Agussalim Rusli dalam sambutannya menyampaikan rasa bangga atas kehadiran Badan Gizi Nasional (BGN) melalui SPPG, karena proses perekrutannya melibatkan masyarakat setempat. Ia juga menyatakan kesiapan untuk senantiasa berpartisipasi apabila terdapat kendala yang membutuhkan dukungan warga sekitar.
Koordinator Wilayah SPPI Pinrang, Nining Angreani, menyampaikan bahwa hingga tahun 2026 telah berdiri sebanyak 44 SPPG. Program ini telah melayani sekitar 88.000 siswa serta kurang lebih 11.000 ibu hamil, balita, dan ibu menyusui, dan jumlah tersebut akan terus bertambah seiring dengan penambahan dapur SPPG baru.
Ia menjelaskan bahwa kapasitas teknis satu dapur mencapai 3.500 porsi per hari, namun berdasarkan hasil evaluasi ditetapkan kapasitas operasional sebesar 2.500 porsi per hari demi menjaga kualitas makanan. Penekanan utama diarahkan pada kualitas bahan baku, penerapan standar operasional prosedur (SOP), serta perbaikan instalasi pengolahan air limbah (IPAL) untuk menghindari penutupan dapur.
Menurutnya, dampak penutupan dapur SPPG cukup signifikan, karena penerima manfaat akan berhenti menerima Makanan Pemenuhan Gizi (MPG), sementara relawan juga kehilangan penghasilan dan pekerjaan sementara. Ia menambahkan, pada 11 Maret 2025 hanya dua dapur yang beroperasi, kemudian bertambah pada 17 Maret 2025 bertepatan dengan bulan Ramadan, hingga kini mencapai 44 SPPG.
Terkait IPAL, Nining Angreani menegaskan bahwa keberadaan IPAL menjadi syarat utama sebelum mitra atau yayasan diizinkan mengoperasikan dapur SPPG. Hal ini penting mengingat dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, terutama di kawasan padat penduduk.
Ia juga menjelaskan bahwa penutupan dapur dilakukan sementara apabila kualitas makanan dinilai tidak layak dan memerlukan evaluasi. Kepala SPPG bertugas mengontrol bahan baku dari mitra pemasok, sementara relawan bertanggung jawab dalam proses persiapan dan pengolahan makanan, dengan kewajiban menyingkirkan bahan yang tidak layak. Penutupan dapur berdampak pada tidak bekerjanya relawan dan tidak diterimanya gaji, yang kerap memicu protes dari orang tua penerima manfaat.
Dalam kesempatan tersebut, Nining Angreani juga memohon dukungan aparat setempat untuk menjaga agar operasional SPPG berjalan sesuai SOP. Ia mengapresiasi peran Babinsa, Babinkamtibmas, aparat kecamatan, serta Volkobinsa di Kecamatan Watang Sawitto, serta berharap Program Presiden Prabowo Subianto dapat berjalan lancar di wilayah Maccorawalie.
Bupati Pinrang yang diwakili oleh Andi Matjtja Moenta, S.Sos., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pinrang, menyampaikan bahwa peluncuran SPPG MACCORAWALIE 05 merupakan langkah konkret dan strategis Pemerintah Kabupaten Pinrang dalam mendukung visi pemerintah pusat untuk mencetak generasi emas Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas melalui Program Makanan Bergizi Gratis.
Ia menegaskan kepada pengurus SPPG, khususnya SPPG Watang Sawitto Maccorawalie, agar dalam pelaksanaan operasional selalu memperhatikan kualitas, higienitas, standar dapur, serta keamanan makanan guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti keracunan pangan. Selain itu, transparansi pengelolaan juga harus dijaga agar seluruh proses berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

“Yang tidak kalah penting, gunakan produk lokal. Bahan baku makanan harus diutamakan dari hasil pertanian dan peternakan lokal sebagai upaya memberdayakan UMKM serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat,” ujar Andi Matjtja Moenta.
Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pinrang Andi Calo Kerrang selaku Satgas MBG Pinrang menyampaikan bahwa tugas utama Satgas adalah mengawasi operasional SPPG. Ia mengungkapkan bahwa dalam beberapa kali turun ke lapangan masih ditemukan sejumlah hal yang perlu dibenahi, terutama terkait IPAL dan sirkulasi udara dapur.
“Beberapa dapur sudah sempat menimbulkan persoalan terkait IPAL. Selain itu, sirkulasi udara juga perlu diperhatikan. Saya pernah masuk ke dapur dan dalam beberapa menit sudah terasa sesak. Padahal makanan bergizi harus tetap terjaga kualitasnya sampai ke penerima manfaat. Jika memungkinkan, gunakan bahan baku yang tersedia di Kabupaten Pinrang,” ujarnya. (*)


Dari Desa di Pinrang, Model Penyediaan Air untuk Petani Pemasok MBG Mulai Dibangun
Gubernur Sulbar Terapkan WFH, ASN Kerja 4 Hari di Kantor 1 Hari di Rumah
Momentum Idulfitri, Gubernur Sulbar Terima Aspirasi Kerajaan Balanipa