Transformasi Nilai Kearifan ‘’ Pappasang’’ Dimomentum Politik

Adhi Riadi

VMSNEWS.NETOPINI – ADHI RIADI – Rupa tau anna’ atonganan da mupasisara’i anna’ da tau tuo sisara – sara’ (Manusia dan kebenaran janganlah dipisahkan agar tak hidup bercerai – berai)
Lanto sara di sitimanggi, lanto siri’ disikammungngi(Jika ada masalah saling menjaga, saling menutupi rasa malu atau aib).

Saya mencoba memulai catatan sederhana ini dengan mengutip dua Pappasan (pesan) dari orang tua , meski pesan tersebut tidak familiar ditelinga kita, namun penting untuk diselami lebih dalam ditengah kondisi dan situasi politik saat ini yang kerap kali menegangkan.

Pada tulisan kami sebelumnya yakni ‘’ Meretas Dehumanisasi Melaui Pappasan Todiolo’’ memang sedikit menyinggung sejumlah perilaku saling merendahkan antar sesama di momentum politik, menciptakan arena persiteruan antar sesama pendukung,yang berimplikasi pada lahirnya faksi – faksi yang kerap saling serang dengan gaya membabi buta.  Media sosial dan warung kopi yang biasanya menjadi transformasi pengetahuan antara satu dengan yang lain, kini bising dengan riuhnya debat kusir yang kadang menggilas nilai – nilai moralitas.

Dari fenomena tersebut, maka tentu tak keliru jika sebahagian dari masyarakat kita acu terhadap politik, hingga tak jarang kita mendengar istilah politik itu sudah menjadi sesuatu yang sangat buruk bahkan telah disebutkan menjadi rahim atas lahirnya perilaku sipatudu gengge , siloso – losongan (saling mengibuli, atau membohongi),serta banyak lagi ungkapan yang sangat jauh dari makna politik itu sendiri.

Jika kita mencoba memahami makna dari Politik itu sendiri, sejak zaman Yunani kuno, telah cukup banyak menarik perhatian, termasuk Plato dan Aristoteles. Varian defenisi dari politik itu sendiri juga ikut tercipta seiiring dengan perkembangan zaman. Namun secara sederhana Politik menurut kedua tokoh ini lebih bermuara pada sebuah tatanan masyarakat yang baik.

Dua tokoh Yunani ini menganggap bahwa politik adalah suatu usaha untuk mencapai masyarakat terbaik, dimana dalam politik akan hidup bahagia karena memiliki peluang untuk mengembangkan bakat, bergaul dengan rasa kemasyarakatan yang akrab,serta hidup dalam suasana moralitas yang tinggi. Namun apa yang kita saksikan dan rasa diera saat ini tentu menjadi hal yang sangat kontadiktif, betapa tidak, kita dengan mudahnya mencibir lawan politik dengan bahasa yang tak manusiawi, bicara menang dan kalah,saling mengumbar aib yang justru dapat berakibat melahirkan perpecahan serta mencerabut identitas kemanusiaan kita sebagai orang Sulbar yakni A Malaqbiang atau Malaqbiq yang dinilai merefresentasikan nilai kesempurnaan.

Ditengah kegersangan nilai  dan bisingnya parade panghujatan di momentum politik saat ini, ada baiknya kita mencoba mentransformasikan nilai – nilai kearifan melalui dua Pappasan (pesan) diatas sebagai upaya menciptakan iklim politik yang dibangun diatas narasi yang bersumber dari gagasan ideal.  Keberpihakan dalam momentum politik seharusnya menjadi ruang berkutatnya wacana yang sehat untuk menciptakan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Pesan seperti  Rupa tau anna’ atonganan da mupasisara’i anna’ da tau tuo sisara – sara’ (Manusia dan kebenaran janganlah dipisahkan agar tak hidup bercerai – berai) telah mengisyaratkan kita sebagai manusia untuk tetap memegang teguh prinsip kebenaran agar tidak terjadi disintegrasi dimasyarakat, melalui petuah inilah yang semestinya menjadi dasar kita dalam melakoni kehidupan politik diera saat ini jika memang kita ingin mewujudkan suasana moralitas yang tinggi.

Upaya mentransformasi nilai kearifan lokal dalam politik berupa Pappasan (pesan/petuah)tentu bukanlah hal yang mudah, namun jika berbicara persoalan objektifitas kebatinan secara personal maka tentu kita akan sampai pada sebuah kesadaran betapa besar nilai yang semestinya termanisfestasi dalam semua segmentasi kehidupan termasuk politik.

Manusia yang mempunyai potensi dengan segala keunikan dan keistimewaannya, sehingga ia kerap kali disebut sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sempuna dibandingkan dengan ciptaan lainnya, bahkan ia disebut sebagai khalifa di muka bumi termasuk menjadi pendukung dan pengembang nilai kebudayaan . Maka tentu dengan segala yang dimiliki oleh manusia berupa fitrah (kecenderungan untuk mengarah pada sesuatu yang baik), serta akalnya diyakini mampu menyerap pesan ilahiah yang transenden dan telah termanifestasi melalui Pappasan (pesan/petuah) dalam ruang kebudayaan bukan suatu hal yang mustahil bisa ditransformasi dalam kehidupan politik.

Ada sebuah falsafah yang begitu akrab ditelinga kita khususnya di Sulawesi Barat yakni Sipakatau si Pakalaqbi (memposisikan manusia sebagai manusia, saling memuliakan), ini petanda bahwa betapa orang Sulbar pada umumnya yang tak ingin melanggengkan diktum terkenal dari Thomas Hobbes yakni Homo Homoni Lupus (Manusia adalah Serigala Bagi Manusia Lainnya), Sehingga momentum politik semestinya menjadi ruang untuk membuktikan bahwa kita patut menyandang predikat A Malaqbian/ Malaqbi baik dari segi perkataan maupun perbuatan, panggung politik semestinya dijadikan sebagai upaya mewujudkan nilai – nilai A Malaqbian, bukan justru menjadi ruang saling mengumbar aib hingga berujung pada perpecahan yang tentunya jauh dari nilai luhur yang pernah dibangun diatas sebuah petuah  Lanto sara di sitimanggi, lanto siri’ disikammungngi (Jika ada masalah saling menjaga, saling menutupi rasa malu atau aib).

Upaya mentransformasi nilai – nilai kearifan lokal berupa Pappasan (pesan /petuah) kedalam politik dipandang penting, sebab politik seyogiayanya membangun sebuah tatanan yang baik yang berdiri diatas suasana moralitas yang tinggi itu tersimpan dalam samudra makna pada Pappasang.

About Author

Spread the love