VMSNEWS.NET – Pojok Sastra – Kita memang belum pernah bertemu secara langsung, berinteraksi dan semeja ditemani secangkir kopi sembari melahap habis teori – teori Marx dan berapa hasil bacaan yang cukup lama mengendap dalam pikiran. Namun jika harus bicara jujur, ‘’ Diam Adalah Caraku Mengagumimu’’.
Usia kita tertaut jauh, bahkan kadang aku berpikir bahwa tak sepantasnya aku harus masuk kedalam dirimu meski itu hanya sebatas imajinasi yang mungkin tidak akan bisa terwujud dalam ruang nyata.
Ada begitu banyak perempuan yang dekat denganku, namun saya selalu menganggapnya sebagai teman biasa sebab sulit mendeskripsikan betapa banyak sayatan di hati yang pernah ditinggal oleh mereka,namun ini tentu bukanlah alasan untuk menjadi hakim pada semua perempuan, termasuk dirimu, sebab yang kurasakan ini sangat berbeda.
Setelah sekian lama aku memilih menapaki perjalanan dengan ‘’ Jalan Sunyi ‘’, jauh dari rasa ingin memiliki seseorang perempuan, namun, begitu kau hadir dan aku melihatmu, mengenal namamu, mempelajari perangaimu,meski dalam waktu singkat, ada decak kagum terhadapmu. Kucoba mengusir rasa itu, tetapi semua sulit bagiku. Kutau ini begitu cepat, namun haruskah aku menyalahkan Tuhan yang menitip rasa kagum pada setiap hambanya yang memiliki hati ?
Pertanyaan ini tentu tak berarti apa – apa bagimu, sebab aku adalah seorang lelaki yang baru saja kau kenal dan tentu tak ada artinya dihadapanmu. Ada pertarungan rasa yang saat ini hadir berkecamuk dalam diriku, yakni aku berada diantara harap dan cemas,berharap bisa memilikimu namun ada kecemasan kau akan berpaling dariku.
Mengungkapkan rasa ini dengan jujur kepadamu adik-ku, sangat sulit, sebab aku takut ada kenyataan yang nantinya membuatmu kecewa dan tak lagi menganggapku sebagai kakak yang selalu berusaha menghiburmu di tengah kesedihan dan butuh dukungan. Hampir tak ada sekat yang menjadi tirai diantara kita meski hanya lewat maya,belum lagi jarak geografis yang cukup jauh semakin memantik rasa kerinduanku terhadapmu untuk ingin menemuimu.
Kita selalu berbalas kabar seperti biasa lewat WhatsApp,aku tak pernah melewatkan semua coretan di history WhatsApp milikmu sebagai cara untuk memastikan bahwa dikau dalam keadaan baik – baik saja. Jika sehari ponselku tak bergetar dan menemui pesan – pesan pemberontakanmu, narasi – narasi perlawananmu, hingga nyanyian yang kau lantunkan dengan suara khasmu, jiwa ini serasa mengalami kegersangan, ingin merontah hingga kadang sampai pada ruang imaji yang tak dapat dinalar.
Adikku, disaat kita saling berkomunikasi, seakan itu adalah sesuatu yang wajar saja, namun jauh dalam lubuk hati ada rasa yang ingin diungkap, tetapi akalku seolah lumpuh, tanganku gemetar untuk menuliskan narasi yang tepat agar kau bisa memahami kondisi yang kini kubatinkan terhadapmu.
Diam, begitulah caraku mengagumimu, sebab kutau, mungkin ada begitu banyak orang didekatmu yang lebih pantas untukmu, yang kau kagumi, sehingga sabar adalah jalan para pecinta untuk menyaksikan kebahagiaan kekasihnya, meski ada rasa cemburu berkecamuk di dada tetapi semua itu harus kupalingkan sebab aku takut kau kecewa terhadapku yang selama ini kau anggap sebagai kakak.
Adikku, aku tak mau mengungkapkan rasa ini dengan cara gegabah dihadapanmu,memilikimu mungkin adalah sesuatu yang sangat sulit bagiku. Mengendapkan rasa ini dalam hati tentu adalah suatu hal yang begitu berat, diam adalah cara yang kupilih untuk mempertahankan agar kau tak muak padaku, mungkin saja kau akan menyebut bahwa aku adalah lelaki yang paling lemah yang pernah kau jumpai dalam hidupmu, tetapi suatu hal yang pasti,semua ini menjadi pilihanku sebab aku begitu takut kau tak lagi menganggapku kakak, teman diskusi, teman curhat disaat kau butuh dukungan dari orang dekatmu.
Wahai adik pemberontak zaman, putri cantik asal Mamasa berdarah Bugis,catatan ini mungkin adalah tumpukan sampah yang akan memenuhi kamarmu sekiranya ini dalam bentuk surat seperti di zaman Sitti Nurbaya, tetaplah kau seperti yang kukenal,menjalin hubungan walau hanya sebatas kakak bagimu, dan akupun akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kakak sebagai upaya mensiasati rasa yang kian hari makin menggila. Ada beberapa gambarmu yang tersusun rapi di folder galeri ponsel milikku,itupun yang kau kirim sebagai ekspresi kemanjaan seorang adik kepada kakak-nya, ijinkan aku menyimpannya agar kelak nantinya ada catatan history perjalanan romantisme meski harus dipatahkan dengan sebuah kenyataan bahwa kau adalah adikku. Jika harus menderita dalam caraku mengagumimu, akan kupikul derita itu,sebab seorang pecinta akan selalu tersenyum menyaksikan kekasih-nya bahagia.
Kudorong munajatku keatas langit, meminta kepada Tuhan yang disembah dengan berbagai cara,yang disebut dengan berbagai nama ‘’ semoga kau menemukan kebaikan dunia akhirat’’ Adikku _ selama kau baik – baik saja,maka penderitaanku tak berarti apa – apa, munajat yang kupersembahkan untukmu adalah salah satu cara seoranng pecinta membahasakan kerinduanya kepada kekasih-nya atas rasa yang telah dititip Tuhan kepada-nya.
*** Pojok Sastra


Universitas Tomakaka Jadi Tuan Rumah Temu Wicara Regional FKTMSI Se-Sulselbar
RASA SEPI
GORESAN PENA DARI RIMBA