Jalle – Jallete Lagu Rakyat Mamuju Hilang Ditelan Zaman

Jelang Festival Maradika Mamuju 2019, Panitia Pelaksana Gelar Konferensi Pers.

VMSNEWS.NETMamuju –  Ray Bradbury pernah menyebut “Kamu tidak harus membakar buku untuk menghancurkan budaya. Cukup membuat orang berhenti membacanya”.

Jika pernyataan Bradbury ini kemudian ditarik dalam kebudayaan yang terkadang hanya menyisahkan tutur dari para leluhur tanpa adanya upaya menuliskannya, maka bukan tidak mungkin semuanya akan bisa hilang begitu saja.

Pengisahan sejarah, cerita rakyat, lagu tradisional sebaiknya tidak hanya melalui lisan semata, namun ia juga harus dituliskan agar dapat dibaca.

Budaya tutur  semestinya diimbangi dengan budaya tulis, agar tidak terjadi distorsi terhadap kisah sejarah dikarenakan terpengaruh subyektivitas dari penutur itu sendiri.

Di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat banyak terdapat cerita rakyat dan legenda  serta karya sastra dalam bentuk lagu yang bermuatan nilai sejarah, namun itu akan hilang jika ia tidak lagi dituliskan dan dibacakan oleh generasi penerus.

Forum Silaturahmi Keraton Nusantara 2019 bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju akan menggelar Festival Maradika Mamuju yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 16 – 19 Desember mendatang.

Pada kegiatan ini, sejumlah tradisi, adat – istiadat, tarian, nyanyian rakyat serta beberapa karya seni dipastikan akan turut meramaikan parade kebudayaan di bumi Manakarra ini.

Wakil Bupati Mamuju yang juga didaulat selaku ketua panitia pelaksana kegiatan mengatakan, budaya, adat – istiadat kita harus mampu menampilkan seantero Nusantara ini dan harus dikenal, mengingat kita ini adalah Provinsi yang baru dan disini terdiri dari banyak kerajaan dimana kita kenal ada kerajaan Pitu Ulunna Salu dan Pitu Ba’babana Binanga.

Hal ini tentu memantik sejumlah tradisi paling purba sekalipun yang pernah ada di Mamuju harus dipanggungkan di momen tersebut sebagai upaya untuk memperkenalkan bahwa Kabupaten Mamuju memiliki sebuah peradaban.

Jika di Mandar ada yang dikenal dengan Sayang – Sayang atau lagu tradisional, Kalindaqdaq syair atau berupa pantun tradisional, di Pitu Ulunna Salu ada Sengo – Sengo yang merupakan petuah dari para leluhur yang mengandung makna filosofi yang tinggi, maka di Mamuju ada pula yang disebut dengan Jalle – Jallete dan itu juga merupakan sebuah karya sastra berbentuk lagu – lagu daerah.

Maradika Mamuju, H. Andi Maksum Dai mengaku bahwa dirinya sudah tidak pernah mendengarkan lagu Jalle – Jallete itu dinyanyikan.

” Saya sudah tidak pernah lagi mendengar Jalle – Jallete, terakhir sejak tahun 1957 yang dimana kita meninggalkan Mamuju dan pada saat itu DITII berada di Mamuju,” ujar Andi Maksum Dai.

Lagu Jalle – Jallete ini adalah lagu yang biasa dinyanyikan para pelaut saat sedang berada ditengah laut dibawah sinar rembulan yang terang, begitu pula saat ia akan meninggalkan istri dan anaknya untuk mencari nafkah serta kerap dinyanyikan saat sedang menimang anak bayi.” kata Andi Maksum Dai.

Bagi Maksum Dai, lagu ini punya makna filosofi dan pesan moral didalamnya, sayangnya,hampir sudah tidak ada lagi yang bisa menyanyikan Jalle – Jallete di era saat ini.” pungkas Maksum Dai Selasa (19/11).

Dhy]

About Author

Spread the love