VMSNEWS.NET – OPINI – PENULIS – Muhammad Yunan – (Dosen STAIN Majene) -Wahyu pertama yang diturunkan kepada Baginda Nabi saw di gua Hira dimulai dengan kata perintah “Iqra’” (bacalah). Itu mejadi salah satu dalil akan penghargaan Islam bagi ilmu pengetahuan yang dituntut untuk bersanding secara berimbang dengan keimanan.
Begitu pentingnya ilmu dalam pandangan agama kita, sehingga di dalam al-Quran kita jumpai pula ayat-ayat yang memerintahkan manusia untuk berfikir. Afala ta’qilun (apakah kamu tidak berakal?), afala tanzhurun (apakah kamu tidak memperhatikan?), afala tatafakkarun (apakah kamu tidak berfikir?), afala tatadabbarun (apakah kamu tidak mentadabburi?) adalah kalimat yang berulang-ulang kita temukan di dalam al-Quran.
Perintah membaca secara langsung menuntut peran akal untuk digunakan sebagai media untuk menambah pengetahuan. Ia menjadi media dan wadah tempat pengetahuan yang ada pada manusia. Dalam al-Quran Allah berfirman, “Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti atas apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Mujadalah: 11).
Al-Quran sebagai wahyu Tuhan, di samping hadir sebagai kitab petunjuk bagi ummat manusia secara umum dan bagi orang-orang bertaqwa secara khusus, Al-Quran secara tidak langsung juga menjadi sumber yang memprakarsai lahirnya berbagai disiplin-disiplin keilmuan yang terus berkembang hingga saat ini, khususnya bidang-bidang keilmuan yang berkembang pesat dalam dunia keislaman.
Pemetaan bidang keilmuan yang disandarkan pada al-Quran tersebut menurut Sayyid Husain dapat dibedakan dalam tiga wilayah umum, yaitu: ilmu yang berkenaan dengan lafaz al-Quran, ilmu yang berkenaan dengan isi kandungan al-Quran dan ilmu yang lahir dari al-Quran.
1. Ilmu yang berkenaan dengan lafaz al-Quran
Setiap muslim dari masa ke masa dan dari generasi ke generasi berupaya untuk berinteraksi dengan Al-Quran dengan cara yang sebaik-baiknya. Karena itu, ummat Islam yang bahasa ibunya bukan bahasa al-Quran, tentunya akan menemui banyak kendala untuk membaca dan menulisnya.
Untuk menopang interaksi yang baik tersebut, maka di kemudian hari dalam perjalanan sejarah Islam, lahirlah bidang-bidang keilmuan yang berkenaan dengan lafazh tersebut, yang mencakup ilmu makharijul huruf, ilmu tajwid, ilmu kaligrafi, ilmu qiraah dan tilawah al-Quran yang kesemuanya bertujuan agar siapapun yang mempelajarinya bisa membaca al-Quran dengan benar dan indah, serta mampu menuliskannya dengan baik dan benar.
2. Ilmu yang berkenaan dengan isi kandungan al-Quran
Alasan sebagai kitab petunjuk menjadikan ayat-ayat al-Quran menjadi pusat kajian para ulama dan pengkaji al-Quran di sepanjang masa untuk mengungkap dan membumikan isi kandungannya. Usaha tersebut di kemudian hari melahirkan berbagai disiplin ilmu yang berkenaan dengan kandungan al-Quran tersebut.
Ada bidang ilmu tafsir dengan metode birra’yi dan birriwayah, karya-karya tafsir disusun dengan cara tahlili (berdasarkan urutan surah dan ayat), muqaran (perbandingan) dan ijmali (penjelasan umum). Al-Quran dikaji sesuai dengan latar keilmuan pengkajinya yang melahirkan beragam corak tafsir, mulai dari corak tafsir falsafi, corak tafsir kebahasaan, corak tafsir tasawuf, corak tafsir hukum dan lain-lain. Lahir pula bidang ilmu fiqhi dan ushul fiqhi yang bertujuan menggali hukum-hukum yang dikandung oleh al-Quran dan begitupun bidang ilmu lainnya yang berkenaan dengan kajian kandungan al-Quran.
3. Ilmu yang lahir dari al-Quran
Al-Quran sebagai mu’jizat di awal turunnya mampu membungkam para penyair dan membuat mereka takjub pada bacaan-bacaan al-Quran. Keahlian mereka dalam menggubah syair-syair indah yang dikagumi ternyata sedikitpun tidak mampu menyaingi ketinggian bahasa al-Quran. Dari sisi kebahasaan, al-Quran dipandang begitu indah dalam susunan kalimat dan isi beritanya. Karena sebab al-Quranlah, ilmu bahasa Arab di kemudian hari berkembang menjadi disiplin ilmu dengan beragam objek dan cabang pembahasannya.
Al-Quran juga membicarakan diri Baginda Nabi Muhammad saw sebagai pribadi agung yang maksum, sebagai utusan Tuhan, sebagai teladan baik dan sebagai ikutan untuk mendapatkan kecintaan Allah. Atas dasar ini, sehingga segala sesuatu yang berkenaan dengan diri Baginda Nabi saw dipandang penting. Dan untuk merawat semua itu, para ulama bergerak mengumpulkan hadis-hadisnya, menyeleksi dan membukukannya, serta melakukan syarah atas kandungannya. Dalam perjalanan sejarah, lahirlah disiplin ilmu hadis dengan beragam cabangnya untuk menjaga otentitas informasi manusia suci tersebut.
Dalam sejarah, ummat Islam pasca masa kenabian mulai terjebak dalam konflik dan perang antar sesama muslim yang melahirkan perdebatan di seputar kedudukan perbuatan dan dosa seorang muslim karena telah membunuh saudara seimannya. Beragam sikap lahir dengan merujuk ke berbagai ayat al-Quran sebagai hujjah pandangan-pandangannya dalam perdebatan tersebut. Perdebatan-perdebatan itu yang di kemudian hari terus berkembang sampai memasuki wilayah perbuatan dan keadilan Tuhan, serta sifat-sifat Tuhan lainnya. Di kemudian hari perbincangan tersebut melahirkan disiplin Ilmu kalam dengan beraneka ragam paham dan alirannya.
Di samping disiplin di atas, berbagai disiplin ilmu-ilmu lainnya terus bermunculan dalam ruang sejarah ummat Islam. Informasi yang disuguhkan oleh al-Quran sebagai kitab wahyu yang diyakini kebenarannya menjadi alasan utama perhatian para ilmuan muslim dan ilmuan lainnya untuk mengkaji dan menelitinya. Hasil temuan dalam penelitian mereka banyak yang akhirnya berdiri sebagai sebuah disiplin ilmu tersendiri.
Begitu banyak warisan dari karya-karya ulama yang lahir di sepanjang sejarah Islam, karena interaksi mereka yang serius dan sungguh-sungguh terhadap al-Quran. Interaksi tersebut terus berlanjut dan berkembang hingga saat ini. Begitulah sekilas gambaran penghargaan Islam bagi ilmu pengetahuan yang dituntut untuk bersanding secara berimbang dengan keimanan.
Olehnya itu, belajar al-Quran janganlah dipersempit maknanya hanya pada wilayah yang berkenaan lafaz semata. Tetapi lebih dari itu, melangkahlah pada bidang-bidang keilmuan lainnya yang mendukung bertambahnya pengetahuan dan pemahaman kita terhadap isi kandungan al-Quran. Baginda Nabi saw bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Quran dan mengajarkannya” (HR. Bukhari). Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.
Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad wa Ali Sayyidina Muhammad.


APBN Dari Rakyat tuk Rakyat-Qurban Presiden Prabowo Disoal, Mari Uraikan
Menjaga MBG sebagai Ekosistem, Bukan Sekadar Program
Menguji Keseriusan Program MBG: Koreksi yang Tidak Boleh Disalahpahami